Sejarah kucing

Posted: April 5, 2012 in Sejarah Hewan, Sejarah Kucing
Gambar fosil kucing purba.

Pada masa silamnenek moyang kucing adalah Miacis, binatang liar pada masa Eosen yang sosoknya mirip musang, 50 juta tahun silam.

Bulan Agustus 2008 tim peneliti kandungan minyak Venezuela berhasil menemukan fosil kucing raksasa bertaring tajam di wilayah tenggara Caracas. “Ini merupakan temuan paling penting di Amerika Selatan selama kurun waktu 60 tahun,” ujar paleontologis dari Institut Sains Venezuela Ascanio Rincon.

Fosil-fosil tersebut ditemukan bersama beberapa fosil hewan lainnya seperti harimau kumbang, serigala, onta, burung gagak, bebek dan kuda. Semua hewan tersebut hidup pada 1,8 juta tahun lalu. Para tim menemukan fosil tersebut secara tidak sengaja saat mereka sedang mencari kemungkinan kandungan energi minyak di pusat wilayah Monages.

Penemuan yang paling penting adalah rangka tengkorak yang masih lengkap dari kucing raksasa zaman purba, yang dinamakan Homotherium. Kucing raksasa tersebut memiliki taring tajam berukuran lebih kecil dari harimau dan tubuh yang mirip dengan Hyena, yang pernah hidup di wilayah Afrika, Eurasia dan Amerika Utara antara lima juta hingga 10 ribu tahun lalu. Hewan ini mengalami kepunahan pada 500 ribu tahun lalu.

Gambar prasasti kucing
pada kebudayaan Mesir kuno.

Catatan paling awal tentang usaha domestikasi (penjinakan) kucing adalah sekitar tahun 4000 SM di Mesir, ketika kucing digunakan untuk menjaga toko bahan pangan dari serangan tikus. Namun, baru-baru ini dalam sebuah makan di Shillourokambos, Siprus, bertahun 7500 SM, ditemukan kerangka kucing yang dikuburkan bersama manusia. Karena tikus bukanlah hewan asli Siprus, hal ini menunjukkan bahwa paling tidak pada saat itu, telah terjadi usaha domestikasi kucing. Kerangka kucing yang ditemukan di Siprus ini mirip dengan spesies kucing liar yang merupakan nenek moyang kucing rumahan saat ini.

Gambar sebuah topeng perunggu digunakan dalam pemakaman mumi kucing di Mesir kuno.

Padatahun 1.800-an ditemukan suatu kuburan atau tepatnya “situs” berisikan 300.000 mumi kucing dalam keadaan masih utuh, yang menandakan dahulu kucing memang suatu hewan yang spesial. Orang Mesir kuno menganggap kucing sebagai penjelmaan Dewi Bast, juga dikenal sebagai Bastet atau Thet. Hukuman karena membunuh kucing adalah hukuman mati, dan jika ada kucing yang mati kadang dimumikan seperti halnya manusia.

Pada abad ke 14 populasi kucing di Eropa masih sangat sedikit, sebaliknya populasi tikus meningkat dengan pesat. Dan terjadilah wabah Black Death (semacam pes) yang dibawa tikus pada akhir abad ke-14. Wabah tersebut dengan cepat menyebar ke seluruh Eropa, yang menyebabkan kematian 40 juta penduduk Eropa (1/3 nya) dalam waktu 4 tahun (dari th 1347 – 1351). Pada saat wabah black death ini, tanah lapang dipenuhi dengan mayat-mayat, rumah-rumah, desa-desa dan perkotaan menjadi sunyi dan kosong.

Wabah ini juga menyebar ke Asia dan Afrika, walaupun tidak separah di Eropa. Wabah ini merupakan wabah terburuk dalam sejarah umat manusia.

Wabah ini berangsur berkurang dengan meningkatnya populasi kucing dan menurunnya populasi tikus. Manusia semakin menyadari betapa pentingnya peranan kucing dalam kehidupan manusia.

Dalam ilmu medis, banyak dokter tempo dulu yang menjadikan kucing sebagai terapi medis untuk penyembuhan tulang, melalui dengkuran gelombang suaranya yang setara dengan frekuensi 50 hertz. Dengkuran tersebut menjadi frekuensi optimal dalam menstimulasi pemulihan tulang.

Orang-orang di benua Eropa, Amerika, dan Australia banyak membawa berbagai jenis kucing dari Asia (khususnya Timur Tengah), kemudian mengembangkannya menjadi berbagai ras/jenis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s