Tentang Harimau

Posted: April 13, 2012 in Sejarah Hewan
  1. Sejarah Harimau

    Secara geografis, penyebaran harimau nyaris menjangkau seluruh asia, yaitu dari Turki timur sampai laut Okhotsk. Dalam kurun waktu 50 tahun belakangan ini, wilayah hidup mereka telah banyak berkurang. Namun, harimau masih dapat dijumpai di beberapa macam jenis hutan termasuk hutan kering (dry deciduous), Hutan lembab (mouist deciduous), hutna semi hijau ( semi evergreen), hutan hijau basah ( wet evergreen), sungai, rawa-rawa dan hutan bakau. Mereka juga dapat dijumpai di hutan-hutan bertanaman coniferous di East Rusia, di habitat berumput tinggi di Himalaya Selatan, serta dihutan-hutan tropis yang ada di Sumatra dan Malaysia. Harimau-harimau tersebut menunjukan toleransi yang sama terhadap variasi ketinggian, temperature dan curah hujan.

    Harimau yang dijumpai di beberapa jenis hutan dan iklim ini menunjukan bahwa habitat pada hakikatnya bukanlah element penting dalam sejarah evolusi harimau. Namun keragaman garis tigris dari macan Phantera ini memungkinkan besar karena mereka mengikuti penyebaran cervid dan bovid di Asia tenggara pada jaman Pleistocence. (flerov 1960; Geist 1971). Sebagaimana halnya dengan evolusi ungulate berukuran besar (Misalnya: Axis, Rusa, Cervus, Bos) yang menciptakan Wilayah baru bagi hewan pemangsa berbadan besar yang hidup di pinggir hutan.

    Pleistocence merupakan jaman es (glaciation) dan iklimnya berfluktuas secara ekstrim, sedikitnya empat masa glacial muncul berseling dengan masa interglacial yang lebih hangat. Suhu dingin yang berkaitan dengan jaman es diperkirakan palign berat menimpa daerah garis lintang utara; sedangkan didaerah tropis, efek yang paling jelas adalah perubahan tinggi permukaan air laut.

    Pada masa glacial air membeku seperti es, permukaan laut menurun sehingga menghasilkan daratan kering baru yang luas. Pada saat iklim menjadi hangat, lapisan-lapisan es meleleh dan menaikan permukaan air laut dan kembali menaikan jembatan darat. Di asia tenggara pulau-pulau yang berada di dasar Selat sunda – antara lain: Sumatra, Jawa danBorneo-secara bergantian tergabung karena es yang terbentuk kemudian terpisah lagi saat es meleleh. Bagi binatang mamalia besar; Pleistocence merupakan jaman yang penuh dengan kekacauan. Tingkat spesiasi dan kepunahan meningkat empat kali lipat dibanding dengan jaman tersier, dan bebebrapa grup mamalia mengalami ledakan penyebaran (kurten 1971; Geist 1983)

    Rusa berkembang biak dengan baik selama jaman Pleistocence. Dari pusat perkembangan mereka di Asia jenis keturunan cervids yang hidup di hutan dan berbadan kecil ini mirip dengan muntjac yang ada sekarang, mereka menyebar dan menempati berbagai jenis wilayah. Ukuran tubuh dan kompleksitas anler meningkat sebagai cervids yang dibedakan kedalam habitat di pinggiran hutan dan padang rumput. Gigi geraham Hypsodont yang panjang pada hewan Chital, Babi rusa (Hogdeer) dan Barangsingha, berkembang pada saat spesies-spesies ini berubah menjadi hewan pemakan rumput di pinggiran hutan, atau lebih di khususkan lagi pemakan rumput di savana dan tanah berawa-rawa (Geist, 1983), meskipun demikian pada masa sekarang ini, sebagian besar dari 14 spesies cervid atau lebih membawa sifat bawaan turunan untuk tetap tinggal di hutan dan mendiami habitat hutan padat, daerah hutan terbuka atau pinggiran hutan.

    Keluarga Bovid Juga dibedakan menjadi aneka jenis spesies yang luas di benua Asia saja, terdapat sekitar 50 genera. Awal masa Pleistocence ditandai dengan munculnya bovine, lembu, bison dan buffalo (banteng) (Kurten, 1971). Dengan mendiami habitat yang lebih terbuka, bovids ini berkembang dengan memiliki gigi yang besar (High Crowned teeth), yag mana lebih kuat untuk mengunyah rumput silika  (silica-laden-grasses). Kelompok lembu liar di masa kini berjumlah tiga spesies yang dapat dijumpai di india dan asia tenggara. Banteng adalah hewan yang hidup di hutan kering terbuka dan lapangan yang ada di tengah hutan (glades); kouprey; sekarang hampir puna, ia hanya dapat dijumpai di hutan kering terbuka, sedangkan Gaur lebih menyukai habitat hutan yang lebih padat, mereka keluar dimalam hari untuk memakan rumput di tanah terbuka dan juga dilapangan yang ada di tengah hutan (glades) (Wharton 1957)

    Penelitian terhadap penyebaran cervid di Asia Selatan menunjukan bahwa curah hujan tahunan yang kurang dari 500 mm adalah kondisi yang secara umum terlalu kering untuk sebagian cervid. Pada keragaman dan jumlah Cervid akan berkurang jika kondisi alamnya terlalu basah. Dalam hutan tropis di Asia Selatan terrestrial biomass hewan berkuku (unglate) akan berkembang jika curah hujan tahunan mencapai sekitar 1900 mm. Sedangkan jika curah hujannya diatas 1900 mm/tahun maka akan memutuskan hubungan positif antara curah hujan dengan unglate biomass. Hutan tropis sejati memungkinkan produktifitas primer yang kecil pada tingkat dasar dan biomassa binatang mamalia didominasi oleh aboral herbivores seperti hewan primates. Sebagai contoh Taman Nasional Gunung Lauser di Sumatra yang secara tipikal menerima curah hujan lebih dari 2000 mm selama setahun, memiliki enam spesies primata namun hanya sedikit dihuni oleh unglate (contoh: sambar, babi hutan, muntjac) yang muncul dengan tingkat kepadatan yang sangat rendah.

    Daerah yang memiliki jumlah unglate biomass terbanyak di Asia selatan adalah daerah dimana tanah rumput dan hutan membentuk suatu mozaik dan interdigitasi beberapa jenis tumbuhan yang berbeda sehingga mendukung kekayaan komunitas unglate. Perubahan aliran sungai, peristiwa kebakaran dan gangguan antrophogenic lain sangat mempengaruhi perkembangan jumlah habitat pinggiran yang disukai beberapa spesies unglate. Demikian pula dengan jumlah populasi harimau yang sangat tergantung pada jumlah biomasa mangsa yang tersedia.

  2. Jenis Harimau

    Harimau Sumatera
    Harimau Sumatera


    Harimau Siberia

    Harimau Siberia


    Harimau Malaysia

    Harimau Malaysia


    Harimau Indochina

    Harimau Indochina


    Harimau Bengal India

    Harimau Bengal India


    Harimau China Selatan

    Harimau China Selatan

  3. Habitat Harimau
    Dataran wilayah tengah adalah di mana ia terus berkembang (menurut standar sekarang) yang paling. Hal ini dapat ditemukan di hampir semua suaka margasatwa banyak di negara bagian Madhya Pradesh. Negara padang pasir Rajasthan di barat juga membanggakan beberapa cadangan yang sangat baik seperti Ranthambore, yang terkenal karena populasi harimau mereka. Di selatan, populasi harimau tersebar luas di hutan cemara di sana, yang membentang di berbagai negara bagian seperti Karnataka, Tamil Nadu dan Kerala. Di negara bagian Bengal Barat, mereka berkembang di antara rawa-rawa bakau dari Sunderban National Park. Di taman ini mereka telah beradaptasi dengan habitat yang terutama terdiri dari mangrove didistribusikan ke banyak pulau yang dipisahkan oleh air garam.
    Harimau itu telah menunjukkan kemampuannya untuk beradaptasi dengan berbagai habitat. Masalah utama yang dihadapi adalah hilangnya tanah pada umumnya, yang tidak sedang dikuasai oleh manusia.
  4. Harimau Terbesar  Di dunia
    Photo si “hercules” (nama si harimau) – terbesar di dunia saat ini dengan berat kurang lebih hampir mencapai setengah tons, dikutip dari worldamazinginformation.com.. (amazing fact)

  5. Harimau Terbesar Benggala

    Nggak seru kan kalau ke Taman Safari tidak menyaksikan raja rimba yang satu ini. Harimau raksasa terbesar kedua dari belantara Benggala – India. Harimau terbesar kedua setelah harimau Siberia (rusia) ini tentu saja akan membuat kita berpikir lain tentang kucing raksasa yang exotic satu ini..

    Selain sangat berotot, kucing raksasa ini sangat gesit dan tangguh di daratan. Kemampuannya dalam memanjat juga sangat tidak diragukan lagi. Yang lebih hebatnya mereka juga sangat luar biasa saat berenang dan menyelam. Mungkin kemampuan inilah yang membuat mereka layak mendapatkan predikat raja rimba sejati.

    Kalau kita bertemu dengan mereka di hutan. Apa yang sebaiknya harus kita lakukan. Melarikan diri secepatnya ? Atau justru melawan mereka habis-habisan ?

    Jangan sekali-sekali berpikir untuk lari dari mereka. Membelakangi mereka hanya akan membuat kita menjadi sasaran empuk terkaman mereka. Memanjat pohon yang ada hanya akan membuat kita terjebak tanpa ada kesempatan lagi untuk bertahan. Berenang menyeberangi sungai atau danau ? Mereka tidak saja jagoan berenang, tetapi juga penyelam handal dibandingkan kita.

    Jadi kesempatan terbesar kita justru menghadapi serangan mereka langsung dengan senjata apapun yang bisa kita temukan di hutan. Entah tongkat kayu ataupun batu yang bisa kita temukan. Dan hadapi mereka di setiap serangan yang mungkin akan mereka lancarkan kepada kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s